|
Menyelamatkan Manusia dari Kepunahan |
|
Ditulis oleh Ambo
|
Menyelamatkan Manusia dari Kepunahan Manusia memang terkadang lupa dengan kenikmatan apa yang selama ini diperolehnya. Selalu menginginkan sesuatu yang lebih ketika ia telah mendapatkan apa yang dikehendakinya. Oleh: Syarifuddin Ambo Alam yang sangat berharga ini, telah dikuras dan disedot dengan serakah tanpa memikirkan hari esok ? Bagaimana anak cucu nanti, apakah mereka masih bisa menikmati segarnya alam pegunungan di pagi hari yang ditemani oleh nyanyian merdunya sang burung yang saling bersahut-sahutan? Masihkah mereka bisa melihat dan menyaksikan pohon-pohon besar yang berdiri tegak dan kokoh di tengah lebatnya hutan dengan berbagai jenis habitat yang tinggal didalamnya? Atau mungkin juga semua hal itu hanya sekedar menjadi cerita atau dongeng di malam hari nantinya, saat semua telah menjadi tempat tinggal dan gedung-gedung pencakar lagit. Atau mungkin juga menjadi sebuah padang gurun pasir yang luas. |
|
Baca lebih lanjut...
|
|
|
Banjir, Pengelolaan tak Seimbang |
|
Ditulis oleh Isratul Ikhsan
|
 Kalsel memiliki 64 sungai dengan dua satuan daerah aliran sungai (DAS), Barito dan Cengal. Semua DAS ini Menyuplai air dari Pegunungan Meratus. Sayangnya tiga per empat wilayah Pegunugan Meratus telah menjadi daerah konsesi tambang dan perkebunan sawit besar. Dalam catatan Dinas Pertambangan tahun 2006 ada sekitar 400 kuasa penambangan, tiga kontrak karya, dan 23 perjanjian karya pengusahaan batu bara (PKP2B) yang mengoyak punggung Meratus. Semua ini membuat seluruh zona DAS tak seimbang. Baik di hulu, tengah dan zona pemanfaatan di hilir. Sedimentasi yang tinggi dan penyempitan bantaran sungai, menjadi bukti ketidak seimbangan ini. Suplai atau daya dorong air dari hulu sungai melemah, sehingga tidak mampu menahan daya dorong air laut yang masuk ke daratan. Ini mengakibatkan banjir, mengingat posisi daratan Banjarmasin yang berada 0,18 m di bawah permukaan laut. Dalam jangka panjang harus ada pegelolaan yang terkooordinasi antar kabupaten. Karena pengelolaan das bukan hanya persoalan satu daerah saja. Antara zona hulu, zona tengah dan zona hilir (zona pemanfaatan). Ketika banjir di empat kabupaten tahun 2007 saja daerah ini menderita kerugian mencapai Rp 100 milyar. Yang terbesar adalah infrastruktur pemerintah dan umum, mencapai Rp 77 milyar. Kalau pemerintah hanya punya pemahaman bahwa ini adalah akibat siklus alam dan intensitas hujan yang tinggi, maka hal itu tidak akan menyelesaikan masalah. Karena itu pemerintah yang memiliki otoritas yang diberi rakyatnya, wajib mengambil langkah tegas, jelas, dan konstruktif. Jika hanya menyalahkan alam yang marah –sesungguhnya akibat tindakan manusia juga—itu adalah bentuk tidak cerdasnya mereka yang memiliki otoritas. Pasrah lalu menyalahkan alam, bukan tindakan cerdas. ( Dimuat di Harian Pagi Sinar Kalimantan ) |
|
|
“BIARKAN DIA LESTARI DALAM GELAP DAN SUNYI” |
|
Ditulis oleh Ikhsan_374
|
|
Penelusuran goa atau yang familiar dikalangan penggiat alam bebas sebagai sebuah keahlian khusus yang disebut Caving. Sejarah caving sendiri telah dimulai semenjak 200 tahun yang lalu dan mulai berkembang di Indonesia sekitar tahun 1980 an, secara umum goa mempunyai nilai manfaat luar biasa sebagai sebuah situs prasejarah, penyimpan cadangan air bawah tanah maupun laboratorium yang menyimpan koleksi batuan yang terbentuk berjuta tahun silam serta berbagai jenis biota dengan sifat uniknya. |
|
Baca lebih lanjut...
|
|
|
|